SIDANG PEDOFILIA SOKOBANAH MENDENGARKAN SAKSI PIHAK KORBAN

Saman (kopyah) tengah dijaga petugas saat menunggu proses persidangan ke 2 di PN Sampang, Selasa (17/07/2018). (Foto: Ardi)
Sampang, Pojok Kiri – Kasus pedofilia (pelaku pencabulan anak di bawah umur) nomor perkara 109/Pid.Sus/2018/PN Spg, dengan terdakwa Saman alias P Irwan (45) sudah menjalani proses persidangan sebanyak 2 kali. Pada sidang pertama 10 Juli 2018 lalu dengan agenda pembacaan dakwaan, bahwa perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang (UU) RI No. 17 tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah pengangti UU No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Sidang kedua pedofilia asal Dusun Komite Barat, Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang tersebut dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak korban inisial FN (8) yang masih duduk di bangku kelas 2 salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Desa Bira Timur. Sebelumnya, terdakwa sempat menghilang, dan akhirnya menyerahkan diri kepada pihak Kepolisian pada 30 April 2018 lalu.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Munarwi dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang mengungkapkan bahwa pada persidangan kedua yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sampang, Selasa (17/07/2018) kemarin dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak korban. Diantaranya korban FN, Siti Nurul, Marfuah, dan Resa. Berdasarkan keterangan saksi, korban telah disetujui oleh terdakwa sebanyak 3 kali. Yang pertama dilakukan di rumah kosong, yakni rumah Rosi. Kedua dilakukan di kandang sapi milik Marfuah. Untuk yang ketiga kalinya dilakukan kembali di dapur milik Marfuah.
“Saksinya tadi ada 4 orang, termasuk korban sendiri. Berdasarkan keterangan korban, setiap kali setelah melakukan aksinya, terdakwa selalu mengancam korban agar tidak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Terdakwa itu sebenarnya masih tetangga dekat korban, jarak rumahnya saja ada sekitar 10 meter. Terdakwa  mengakui jika dirinya telah mencabuli korban sebanyak 3 kali,” ungkapnya, Selasa (17/07/2018) usai persidangan.
Munarwi juga menjelaskan jika dari pihak terdakwa ingin mengajukan beberapa saksi yang meringankan. Sebab, terdakwa berdalih jika perbuatan cabulnya itu ada unsur paksaan, tetapi suka sama suka. Tetapi terlepas dari itu, pencabulan anak di bawah umur tetap melanggar UU perlindungan anak.
“Pasca kejadian, psikologi korban sangat syok sampai susah untuk disuruh makan dan juga berkomunikasi. Sementara untuk  kondisi kejiwaan terdakwa itu normal, dan dia melakukan perbuatannya itu dalam keadaan sadar. Terdakwa itu hanya tidak bisa mengendalikan hasrat birahinya, sehingga melakukan pencabulan itu kepada korban,” pungkasnya. (msa)

BACA JUGA :  SATRESKOBA PAMEKASAN TANGKAP PENGEDAR SABU HINGGA KE WILAYAH SAMPANG
Telah dibaca : 60 kali.