PENANGKAPAN JARINGAN NARKOBA SOKOBANAH, POLRES SAMPANG KECOLONGAN?

Helikopter saat akan mendarat di tanah lapang Desa Sokobanah Daya sebelum melakukan penangkapan, Selasa (23/07/2019). (Ist)

Sampang, Pojok Kiri – Kabupaten Sampang darurat narkoba. Sebab selama ini sejumlah bandar beserta jaringannya di wilayah utara Kabupaten Sampang belum tersentuh oleh aparat penegak hukum (APH). Seperti penangkapan narkoba jenis sabu seberat 8,75 kilogram di jalan raya Kecamatan Banyuates beberapa tahun lalu oleh Satresnarkoba Polres Sampang itu hanya menjebloskan seorang sopir dan kurir saja. Sementara bandar atau pemilik barangnya tak tersentuh sama sekali.

Terbaru, pengungkapan dan penangkapan jaringan narkoba di Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang. Tepatnya di Desa Sokobanah Daya pada Selasa (23/07/2019). Namun sayangnya, pengungkapan dan penangkapan jaringan Narkoba jenis sabu itu bukan dilakukan oleh Satreskoba Polres Sampang.

Informasi yang dihimpun Koran Pojok Kiri, pengungkapan dan penangkapan jaringan narkoba di wilayah utara Kabupaten Sampang tersebut dilakukan oleh pihak BNN. Tetapi informasi terbaru penangkapan itu dilakukan oleh Polres Tanjung Perak Surabaya. Dalam penangkapan itu dilakukan di 2 lokasi terpisah dengan menerjunkan 1 helikopter dan 6 mobil. Sementara barang haram itu sendiri diduga mencapai 30 kilogram berasal dari malaysia yang dikirim melalui jasa kurir.

Berdasarkan cerita warga setempat yang tidak mau dikorankan namanya mengungkapkan bahwa penangkapan itu dilakukan di 2 tempat terpisah. pertama di Desa Sokobanah Daya dengan penerima barang seorang perempuan inisial M yang diamankan bersama barang bukti dan 2 orang anaknya, yang salah satunya masih dibawah umur sekitar 15 tahun. Kemudian dilanjutkan penggerebekan rumah seorang ustadz berinisial T di Desa Bira Timur yang diduga juga terlibat atas kepemilikan barang haram dimaksud.

“Barang itu dalam bentuk beberapa paket, setelah diterima dan dibuka oleh M tak lama langsung ada penggerebekan. Si M itu langsung dibawa bersama 2 orang anaknya beserta barang bukti. Di rumah M itu sekitar pukul 13.00 WIB dengan 1 mobil. Kemudian sore harinya ada sekitar 6 mobil mengepung rumah ustadz T yang diduga juga terlibat atas kepemilikan barang itu. Tetapi polisi hanya berhasil mengamankan beberapa barang dan CCTV dari rumah ustadz itu. Sementara orangnya sudah berhasil melarikan diri,” ungkapnya.

BACA JUGA :  DIDUGA TERLIBAT JARINGAN NARKOBA INTERNASIONAL, 3 ANGGOTA POLRES SAMPANG MASIH DITAHAN?

Ia juga menceritakan jika barang haram itu diduga milik perempuan inisial S yang rumahnya di berada di belakang rumah M selaku pemilik alamat penerima paket barang haram dimaksud. Sebab, S sebelumnya sempat mendekam di penjara selama 8 tahun karena kasus narkoba, dan baru bebas sejak 2 tahun yang lalu. Namun dirinya belum bisa memastikan jumlah barang haram itu.

“Penangkapan itu ada helikopternya yang mendarat di tanah lapang tak jauh dari rumah penerima. Saya melihat ada 2 orang yang turun dan banyak senjata api juga diturunkan dari helikopter itu. Kalau jumlah barangnya itu kalau gak salah infonya ada sekitar 30 kilogram,” paparnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Bambang Priyambadha menjelaskan jika penangkapan itu bukan dilakukan oleh pihaknya. Menurutnya, pihak Polres Pelabuhan Tanjung Perak atau Polrestabes Surabaya yang melakukannya.

“BNN tidak melakukan penangkapan di wilayah Sokobanah. Kemungkinan penangkapan itu dilakukan oleh Polres Pelabuhan Tanjung Perak atau Polrestabes Surabaya. Karena sehari sebelumnya Bea Cukai menyerahkan barang bukti itu ke pihak Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Itu hasil pengembangan dari penangkapan jaringan Sokobanah sebelumnya. Kalau jumlah barang buktinya saya belum bisa memastikan. Sementara ini kami masih memonitor,” jelasnya dibalik jaringan seluler, Kamis (25/07/2019).

Sementara itu, KBO Satresnarkoba Polres Sampang Iptu Edi Eko Purnomo mengaku memang mengetahui jika ada giat penangkapan narkoba di wilayah hukumnya itu. Namun dirinya tidak mengetahui siapa yang melakukan penangkapan dimaksud. Ia juga membantah jika pihaknya dikatan telah kecolongan dalam penangkapan jaringan narkoba Internasional itu.

“Kalau ada penangkapan itu kami mengetahuinya, tetapi yang melakukannya itu apakah BNN atau Polda kami kurang paham. Yang jelas kami itu bukan kecolongan. Karena pihak BNN atau Polda itu memiliki kewenangan yang sama, dan juga memiliki kemampuan dukungan teknologi dengan batasan masing-masing. Intinya, semua demi pemberantasan tindak pidana peredaran Narkotika. BNN itu bukan turun tangan, karena kewenangannya melakukan penangkapan itu bisa di seluruh wilayah Indonesia, dan kebetulan TKP nya di Sampang. Untuk informasi berapa tersangka dan barang bukti yang diamankan kami belum mengetahuinya, karena kami tidak masuk dalam tim itu,” paparnya melalui pesan singkat whatsapp (WA).

BACA JUGA :  BUDAK SABU ASAL KEPAJIN SUMENEP DIBEKUK POLISI

Terpisah, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman melalui pesan WA membantah jika dikatakan kecolongan dalam penangkapan itu. Menurutnya, itu merupakan bentuk sinergitas.

“Siapa saja kan boleh, yang penting bagaimana kita bersama-sama memberantas narkoba. Sebelumnya kan sudah ada yang kami tangkap, dan info itu kami serahkan ke satgas untuk melakukan penangkapan, yang alat sadapnya lebih lengkap. Karena itu sudah termasuk jaringan Internasional dari Malaysia. Jadi, kami itu bukan kecolongan,” tutupnya.

Sayangnya, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto saat dihubungi melalui jaringan seluler dan pesan singkat WA belum memberikan respon. (msa)

Telah dibaca : 405 kali.