TANGKAL RADIKALISME, FKS SAMPANG 2019 BINA GRUP MUSIK HADRAH

Grup Hadrah Al Badar saat tampil di sebuah acara Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang.

Sampang, Pojok Kiri – Hadrah adalah salah satu seni budaya Indonesia yang menjadi identitas dari dua budaya, yaitu etnis dan agama. Bagi masyarakat Indonesia kesenian Hadrah atau Rebana tidak asing lagi, khususnya bagi kalangan pesantren, baik salaf maupun modern yang mempunyai geliat dan gairah seni lumayan tinggi. Bahkan beberapa tahun terakhir ini kesenian hadrah tampak begitu menjamur hingga ke pelosok-pelosok desa. Hampir setiap desa mempunyai sedikitnya satu grup hadrah.

Musik hadrah tidak hanya memiliki unsur musikalitas di dalamnya, tetapi juga ada unsur religius dan pesan moral yang disampaikan. Untuk menangkal radikalisme, Forum Keserasian Sosial (FKS) Sampang melalui Program Keserasian Sosial Desa Noreh, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang melakukan pembinaan terhadap grup musik hadrah. Salah satu binaannya adalah paguyuban hadrah Al Badar yang berada di Dusun Gudeman, Desa Noreh, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang yang berdiri sejak tahun 1985 dan masih aktif berlanjut hingga saat ini.

Sejumlah peralatan musik Hadrah yang digunakan setiap tampil.

Husnul Hotimah selaku pendamping FKS Kabupaten Sampang memaparkan bahwa awal mula pendirian grup hadrah Al Badar hanya beranggotakan 8 orang. Seiring perkembangan waktu dari tahun ke tahun, kini anggotanya sudah mencapai kurang lebih 25 Orang hingga saat ini. Menurutnya, tujuan dilakukannya pembinaan terhadap grup musik hadrah tersebut untuk mencegah penyebaran paham radikalisme di masyarakat.

“Selain bertujuan untuk mencegah timbulnya paham radikalisme. Melalui pembinaan grup musik hadrah ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan tali silaturahmi antar jamaah kaum muslimin dan muslimat. Musik hadrah juga sebagai sarana berdakwah Islamiyah melalui syair dan sholawat yang dimainkan dengan alunan menggunakan alat musik rebana,” paparnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pembinaan dan pengadaan grup hadrah tersebut diharapkan dapat membentuk moral masyarakat, terutama di kalangan para generasi muda dan remaja. Pada dasarnya para generasi muda itu masih berada dalam tahap bermain dan tahap serba ingin tahu.

BACA JUGA :  KEMENAG SAMPANG BANGGA, HJ MIRHAMIDA RAHMAH JUARA 2 NASIONAL KEPALA MI BERPRESTASI

“Mereka biasanya suka berkumpul dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Dalam hal ini kami berinisiatif untuk mengarahkan dan mengumpulkan para generasi muda tersebut dalam sebuah wadah majelis melalui paguyuban musik hadrah. Insyaallah dalam majelis itu nantinya mereka dapat berkumpul bersama dan berlatih hadrah bersama, agar keingintahuan mereka terarah pada kesenian-kesenian tradisional yang sifatnya religius. Hal ini kami lakukan karena para generasi muda belum bisa jika diberi arahan dan nasehat secara langsung. Dengan berkumpul dan bersholawat bersama, tentunya mereka akan merasa bergembira dengan teman-temannya. Kondisi seperti inilah yang akan kami manfaatkan untuk memasukkan pesan-pesan moral kepada para generasi muda. Mereka akan dididik dengan memberikan contoh-contoh dan pengarahan sesuai dengan tahap perkembangannya, yaitu dalam tahap bermain,” ujarnya.

Lanjutnya. “Pengadaan grup hadrah ini juga merupakan wujud kepedulian kami terhadap moral bangsa. Dimana calon generasi penerus bangsa harus dididik menjadi orang yang memiliki akhlak dan moral yang sepantasnya, dan sebagai pencegahan terhadap penyebaran paham radikalisme di masyarakat. Banyak sekali realita di lapangan bahwa remaja-remaja sekarang yang sering mabuk-mabukan, balapan liar, bahkan melakukan tindakan asusila. Dalam beberapa penelitian, hal semacam itu dipengaruhi oleh lingkungan tempat pergaulan mereka yang tidak baik, dan pendidikan moral ketika para generasi muda yang kurang maksimal. Untuk itu kami berinisiatif melakukan pembinaan moral calon generasi penerus bangsa sedini mungkin, sesuai dengan tahap perkembangan mereka,” tutupnya. (msa)

Telah dibaca : 27 kali.