HOME // Pemerintahan // Sosial Masyarakat

DPMD TARGETKAN IDM TAHUN 2020 ADA 3 DESA MANDIRI DI SAMPANG

   Manager POJOK KIRI Madura Raya
 Pada: Desember 8, 2019
M Yasak, Kasi Perencanaan dan Pembangunan Desa DPMD Sampang saat ditemui di kantornya, Kamis (05/12/2019).

Sampang, Pojok Kiri – Indeks Desa Membangun (IDM) merupakan indeks komposit yang dibentuk dari Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Ekologi Desa. Dengan landasan hukum Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi nomor 2 Tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun.

Tujuan dari IDM itu sendiri sebagai tolak ukur untuk menetapkan status kemajuan dan kemandirian desa, dengan menyediakan data dan informasi dasar bagi pembangunan Desa. Ukuran pengklasifikasian Desa dalam rangka menentukan intervensi baik anggaran maupun kebijakan pembangunan Desa ada 5 status, diantaranya Desa Mandiri, Desa Maju, Desa Berkembang, Desa Tertinggal, dan Desa Sangat Tertinggal.

Sejak diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendesa PDTT) nomor 201 tahun 2019 tentang Kemajuan dan Kemandirian Desa tertanggal 31 Juli 2019. Untuk IDM di Kabupaten Sampang sendiri mengalami progres yang cukup signifikan. Sebab, pada tahun 2018 lalu terdapat 87 desa dengan predikat tertinggal. Tetapi sejak dikeluarkannya SK dimaksud menjadi 147 desa berkembang dari awalnya 87 desa. Untuk desa maju yang sebelumnya hanya ada 7 menjadi 16 desa. Sementara untuk status desa tertinggal sementara ini masih tersisa 17 desa yang ditargetkan pada tahun 2020 nanti sudah terentaskan.

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sampang H Malik Amrullah melalui M Yasak selaku Kasi Perencanaan dan Pembangunan Desa bahwa masih adanya desa tertinggal merupakan sebuah pekerjaan rumah (PR) bagi pihaknya untuk menghapus predikat 17 desa tertinggal itu dengan menaikkannya menjadi status berkembang pada tahun 2020 nantinya.

“Masih adanya sisa 17 desa dengan status tertinggal itu menjadi PR kami. Tentunya, kami menargetkan pada tahun 2020 nanti dari 180 desa di Kabupaten Sampang sudah terbebas dari status desa tertinggal, dan statusnya naik menjadi desa berkembang, maju, dan juga akan ada desa mandiri,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Kamis (05/12/2019).

BACA JUGA :  PEMKAB SUMENEP GELAR LOMBA TAKBIR KELILING ANTAR OPD

Yasak juga menyampaikan bahwa dengan adanya bantuan keuangan dari Pemerintah Pusat melalui Dana Desa (DD), dan Pemerintah Kabupaten Sampang melalui Alokasi Dana Desa (ADD) banyak memberikan manfaat untuk perekonomian dan pembangunan desa. Itu dibuktikan dengan sudah banyak desa di Kabupaten Sampang yang status IDMnya sudah naik.

“Kami menargetkan pada tahun 2020 nanti untuk desa dengan status tertinggal yang jumlahnya ada 17 sudah terentaskan dan naik statusnya menjadi desa berkembang. Memang untuk tahun 2019 ini sementara masih belum ada desa yang berstatus mandiri, tetapi kami menargetkan dan sudah ada 3 desa yang kami persiapkan untuk bisa dinaikkan statusnya menjadi desa mandiri. Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa bidang, karena salah satu indikator desa mandiri itu sudah terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan sudah berjalan usahanya. Itulah salah satu indikator yang harus kami penuhi untuk bisa menaikkan status desa maju menjadi mandiri,” ujarnya.

Sementara itu, untuk 3 desa yang sudah dipersiapkan menjadi desa mandiri diantaranya ada Desa Gunung Eleh Kecamatan Kedungdung, Desa Banyuates Kecamatan Banyuates, dan Desa Ragung Kecamatan Pangarengan. Menurut Yasak, potensi lokal masing-masing desa tidak sama, sesuai dengan geografis di desa itu sendiri apa saja yang bisa dikembangkan.

“Untuk potensi lokal di Desa Gunung Eleh itu salah satunya ada kerajinan bambu yang bisa diangkat dan dikembangkan. Untuk Desa Ragung yang menjadi salah satu potensi lokal andalannya berupa budidaya ternak ikan nila yang dikelola oleh BUMDes setempat, dan sudah berjalan satu tahun lebih dengan mendapatkan Penghasilan Asli Desa (PADes). Sementara untuk Desa Banyuates potensi lokalnya berupa usaha pengemasan ikan laut yang dihasilkan oleh nelayan setempat. Itulah 3 desa yang sudah kami persiapkan menjadi desa mandiri pada tahun 2020 nanti,” paparnya.

BACA JUGA :  KONI SAMPANG DISKRIMINATIF DALAM KEGIATAN PENINGKATAN SDM PELATIH CABOR

Lebih lanjut Yasak menjelaskan jika pihaknya telah memfasilitasi setiap pengurus BUMDes untuk mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh Kumendesa PDTT demi meningkatkan kapasitasnya dalam pengelolaan BUMDes di desanya masing-masing untuk mengangkat PADes.

“IDM itu untuk mengukur status desa. Jika nantinya ada desa yang beberapa indikatornya masih belum terpenuhi, maka akan kami dorong nantinya. Jadi, secara bertahap kami terus melakukan pembinaan kepada setiap desa agar semua indikator bisa terpenuhi, dan akhirnya desa itu bisa menyandang predikat sebagai desa maju hingga akhirnya menjadi desa mandiri. Apabila nantinya desa itu sudah menyandang sebagai desa mandiri, tentunya dengan menghasilkan PADes yang tinggi tidak akan bergantung lagi terhadap bantuan keuangan dari pemerintah pusat maupun daerah,” pungkasnya. (msa)

Telah dibaca : 57 kali.