BANGKALAN – Di tengah rimbunnya hutan kecil Desa Galis Dajah, Kecamatan Konang, suara gesekan parang dan dentuman alat gali memecah kesunyian Senin (11/5/2026). Di balik pepohonan yang rapat, lima personel Satgas TMMD ke-128 Kodim 0829/Bangkalan sedang berjibaku melawan medan demi satu tujuan mulia: mengalirkan napas kehidupan berupa air bersih.
Dipimpin oleh Serda Amir Wahyudi, para prajurit ini bukan sekadar menjalankan tugas kedinasan. Mereka sedang menata harapan warga yang selama ini mendambakan kemudahan akses air.
Pemasangan tandon dan jalur pipanisasi menjadi fokus utama dalam operasi kemanusiaan bertajuk Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) kali ini.
Jalur yang dilalui tidaklah mudah. Akar pepohonan dan semak belukar yang tebal menuntut kerja fisik ekstra.
Namun, peluh yang menetes di bawah terik matahari Madura seolah tak dirasa. Semangat itu kian terbakar karena mereka tidak sendirian; warga setempat turut bahu-membahu dalam gotong royong yang harmonis.
Kehadiran sosok lokal seperti Pak Zainul, Pak Rosyid, dan Pak Amin menjadi kunci percepatan proyek ini. Kolaborasi antara keahlian teknis tukang setempat dan kedisiplinan prajurit menciptakan ritme kerja yang efektif di lapangan.
”Saat ini progres pengerjaan telah mencapai 70 persen. Kami optimis dalam waktu dekat pengerjaan ini rampung, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Serda Amir Wahyudi dengan nada mantap.
Bagi penduduk Desa Galis Dajah, proyek pipanisasi ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik. Ini adalah simbol kepedulian nyata TNI terhadap kesulitan rakyat di pelosok.
Selama ini, akses air bersih sering kali menjadi kendala yang menghambat produktivitas warga. Dengan tandon yang mulai berdiri kokoh dan pipa yang mulai tersambung ke pemukiman, sebuah babak baru sedang ditulis.
Air bersih yang akan segera mengalir ke rumah-rumah warga diharapkan mampu:
Meningkatkan kualitas kesehatan keluarga.
Mempermudah aktivitas domestik sehari-hari.
Meringankan beban ekonomi warga yang sebelumnya harus bersusah payah mencari sumber air.
Jalur pipa yang kini tertanam di tanah Galis Dajah adalah bukti bahwa di antara rimbanya hutan, ada pengabdian yang tak pernah surut. Ketika air mulai mengalir nanti, ia tidak hanya akan membasahi tenggorokan, tetapi juga menyuburkan rasa percaya bahwa pembangunan merata hingga ke ujung desa.

