Bangkalan – Deru mesin pemotong besi dan dentuman palu memecah kesunyian di Desa Galis Dajah, Kecamatan Konang, Selasa (5/5/2026). Di bawah terik matahari Bangkalan, sebuah perubahan besar sedang diukir. Bukan melalui retorika, melainkan melalui tetesan keringat lima personel Satgas TMMD ke-128 Kodim 0829/Bangkalan yang bahu-membahu bersama warga membangun infrastruktur vital: tandon air dan sistem pipanisasi.
Proyek yang dipimpin oleh Sertu Wahyu ini kini telah mencapai progres 50 persen. Bagi warga Gelis Dajah, angka tersebut bukan sekadar statistik konstruksi, melainkan simbol bahwa masa-masa sulit berjalan jauh demi satu jerigen air bersih akan segera berakhir.
Gotong Royong: Mesin Utama Perubahan
Di lokasi pembangunan, sekat antara seragam loreng dan pakaian sipil tampak melebur. Para prajurit TNI bersama tokoh tukang lokal seperti Pak Zainul, Pak Rosyid, dan Pak Amin, terlihat sibuk memastikan setiap rangka besi terpasang presisi.
”Kami tidak hanya membangun beton, kami membangun harapan. Setiap material yang kami angkat bersama warga adalah langkah menuju kehidupan yang lebih layak,” ujar Sertu Wahyu di sela-sela kegiatannya.
Kolaborasi ini menjadi bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Keahlian teknis para tukang desa berpadu dengan kedisiplinan prajurit, menciptakan ritme kerja yang penuh semangat meski medan yang dihadapi tidaklah mudah.
Dampak Nyata bagi Masa Depan
Pembangunan tandon air ini diprediksi akan menjadi titik balik bagi kualitas hidup di Desa Gelis Dajah. Jika proyek ini rampung, manfaatnya akan menyentuh berbagai aspek:
- Kesehatan: Akses air bersih yang lebih mudah untuk konsumsi dan sanitasi.
- Efisiensi Waktu: Warga, terutama ibu rumah tangga, tidak lagi kehilangan waktu produktif untuk mencari sumber air.
- Kesejahteraan Anak: Generasi mendatang tumbuh di lingkungan yang lebih sehat dan higienis.
Menuju Desa Sejahtera
Sertu Wahyu menegaskan bahwa program TMMD ini adalah bentuk nyata kehadiran negara di tengah kesulitan masyarakat. “Harapan kami sederhana, saat kran air pertama kali dibuka nanti, beban masyarakat berkurang dan senyum mereka mengembang,” tambahnya.
Kisah dari Galis Dajah adalah pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari hal paling mendasar: setetes air bersih. Dengan semangat gotong royong yang terus berkobar, desa di pelosok Bangkalan ini kini menatap masa depan dengan optimisme baru.

